TEKNIK-TEKNIK MEMAHAMI PERKEMBANGAN ANAK

Start Download (Tested Link)

Dalam penerapan kedisiplinan di sekolah, tidak hanya dengan adanya Kepala Sekolah, BP sekarang (BK), Wali Kelas & Guru tetapi, harus ada kesinambungan (Bersatu Mencapai Visi) satu sama lainnya untuk mewujudkan suatu cita-cita sekolah (Visi). Tetapi, pada kenyataanya di antara steak holder tidak seiiring dengan misi yang seharusnya di jalankan. Kita lihat pada kenyataanya seorang steak holder yang seharusnya membimbing dan memberi arahan ada diantaranya yang menyia – nyiakan jabatannya misalnya pemerkosaan terhadap Siswi dengan alasan bimbingan, etc. Hal itu terjadi akibat seorang steak holder yang belum siap untuk memberi bimbingan (Pembimbing yang tidak lulus TOT “Training of Trainer”).
Sisi lain dari ketercapaian suatu Visi, adalah siswa sebagai objek dari BK. Bayank di antara siswa/ Siswi khususnya para remaja yang bermasalah baik dalam segi kedisiplinan bergaul, berbicara, berpakaian etc.

Berikut Daftar permasalahan yang sering di hadapi para remaja di sekolah:

1. Perilaku Bermasalah (Problem Behavior)
 

Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri.

2. Perilaku Menyimpang (Behaviour Disorder)

Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.

3. Penyesuaian Diri Yang Salah (Behaviour Maladjustment)

Perilaku yang tidak sesuaiyangdilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikansesuatutanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).

4. Perilaku Tidak Dapat Membedakan Benar/ Salah (Conduct Disorder)

Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perilaku anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.

5. Attention Deficit Hyperactivity disorder

Yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.